Yuk Belajar Komunikasi Pada Anak !
Yuk belajar komunikasi pada anak!
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Apa kabar semuanya? Sehat ? Sudah bersyukur hari ini? dan satu lagi Jangan Lupa Heppi :)
Dikesempatan kali ini saya akan menuliskan beberapa point "Komunikasi Pada Anak".
Loh tapi kan saya masih remaja, saya masih sekolah, saya masih kuliah, dan juga masih single, tapi kenapa harus tahu akan ini? Komunikasi pada anak tidak hanya kita terapkan pada anak kita kelak, tetapi kita bisa menerapkannya pada anak-anak disekitar kita, seperti adik kita, ponakan kita, sepupu kita, tetangga kita bahkan jika ditempat umum kita pun bisa menerapkan komunikasi ini pada anak yang sebelumnya belum kita kenal.
Apakah tertarik?
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat yaa..
Komunikasi pada anak sebenarnya tidaklah mudah. Banyak sekali tingkah-tingkah lucu mereka yang terkadang membuat kita gemas sampai ingin marah dengan mereka. Pernahkan teman-teman semua sampai merasa purtus asa saat mengingatkan anak? Contohnya ketika anak memanjat meja dengan sengaja, dan anda sudah mengingatkan bahkan memberi tahu bahayanya tetapi mereka justru malah semakin santai, apa yang anda rasakan? Emosi? Jengkel? Ingin marah? Ingin membentaknya? atau anda justru akan memuji mereka ? "Wah hebat sekali kamu dek, sudah pintar memanjat ya sekarang".
Jika teman-teman semua mau berpikir sejenak, sebenarnya tingkah laku diatas dapat dijelaskan dengan memahami bahwa setiap anak mengalami sejumlah fase perkembangan. Perkembangan tersebut meliputi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional yang mampu membawa pengaruh terhadap kemampuan komunikasi anak.
Pentingnya kalimat positif pada anak
Anak-anak sangat peka dengan apa yang mereka dengar, contohnya jika teman-teman meilihat anak sedang bermain gunting dari kejauhan kemudian teman-teman berteriak "Jangan mainan gunting, nanti terluka!" Kalimat tersebut memang bisa membuat anak berhenti bermain gunting, tetapi apa yang didapatkan anak setelah itu? Anak akan merasa ketakutan dan tidak memiliki rasa percaya diri. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Yang pertama dekati dulu anak tersebut dan ucapkan dengan lembut "Nak sedang bermain gunting ya? Boleh kok, asal hati-hati ya, adik tahu kan kalau tidak hati-hati nanti bisa terluka" Mengubah sedikit kosa kata pada saat berkomunikasi pada anak akan memberikan efek yang berbeda, dengan kalimat tersebut anak akan lebih hati-hati bukan menjadi takut dan kapok, mereka pun juga bisa mengetahui resiko apa yang mereka dapatkan ketika ada hal yang kurang baik misalnya terluka, anak-anak bisa memahami bahwa mereka kurang hati-hati.
Menyalahkan anak dengan kalimat negatif pun bisa membuat hati anak tersakiti dan memberikan kenangan buruk yang akan selalu diingat dalam hidupnya. Pada usia anak-anak mereka juga menirukan apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat, hal itu akan berdampak pada karakter diri mereka dimasa yang akan datang karena mereka dapat menyerap kata-kata tiga kali lebih baik dari pada orang dewasa. Sebenarnya orang tua bisa memperingati anak dengan kalimat positif yang mudah dicerna oleh anak-anak. Saat sedang bermain gunting, orang tua bisa menyarankan atau mengarahkan bagaimana cara memegang gunting yang benar, orang tua harus mampu menjelaskan bagian gunting mana yang boleh dipegang dan bagian mana yang bisa melukai anak. Suatu saat memang anak melakukan kesalahan akibat tidak mendengarkan orang tua atau orang-orang disekitarnya. Terkadang kesalahan itu memancing emosi kita sebagai orang yang lebih tua dan lebih tahu akan banyak hal, namun sebaiknya jika kita terlanjur emosi, diamlah sejenak dan saat sudah stabil barulah kita berkomunikasi dengan kalimat yang tentunya positif.
Kalimat positif akan bisa membuat anak lebih percaya diri. Setiap aorang pati pernah melakukan kesalahan, terkhusus anak-anak, namun kalimat positif yang disampaikan orang tua/orang yang lebih tua akan membuatnya memiliki semangat positif untuk memperbaiki kesalahannya. Ubahlah kebiasaan kita sebagai orang tua/orang yang lebih tua menggunakan kalimat positif terhadap anak agar dia tumbuh menjadi seseorang yang percaya diri.
Membentak Anak?
Sebagian besar mungkin kita pernah membentak anak-anak, entah secara disengaja ataupun tidak sengaja. Membentak anak ataupun berteriak merupakan hal spontan yang biasa dilakukan orang tua/orang yang lebih tua terhadap anak-anak untuk menunjukkan superioritasnya dan untuk menarik perhatian anak-anak agar memperhatikan dan mendengarkan ucapannya.
Teman-teman, bentakan yang merupakan gelombang suara bila disertai dengan emosi yang dihasilkan oleh otak kiri akan berkolaborasi menghasilkan gelombang baru dengan efek negatif. Efek ini bersifat destruktif terhadap sel-sel otak terutama bagi anak yang menjadi sasaran bentakan tersebut. Nah, apa yang terjadi ketika kita membentak anak ?
Dalam hal ini, penelitian Lise Gliot yang dilakukannya sendiri, adalah yang terpopuler, ia melakukan penelitian dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. Dari hasil penelitian tersebut, Gliot bisa melihat rangkain indah yang terbentuk ketika sang anak disusui dengan sentuhan lembut di kepalanya. Namun, pada saat anaknya sedang terkejut dan mendengar bentakan, rangkaian indah itu berubah menjadi gelembung lalu pecah berantakan dan menyebabkan perubahan warna.
Dari penelitian ini jelas menunjukkan bahwa marah dan suara bentakan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan otak anak. Selain mempengaruhi perkembangan otak, suara bentakan juga akan mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh sang anak.
Efek jangka panjang yang dihasilkan karena bentakan :
1. Anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal-hal baru.
2. Anak tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan tidak percaya diri
3. Anak akan memiliki sifat egois dan pemarah
4. Anak cenderung memiliki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasihat orang tua.
5. Anak akan memiliki pribadi yang tertutup
6. Anak cenderung apatis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar
Mengingat dahsyatnya akibat dari bentakan yang berkelanjutan dalam jangka panjang, ada baiknya kita sebagai orang tua/orang yang lebih tua untuk meminimalisir membentak anak, ubah kata-kata bentakan menjadi kata-kata yang edukatif yang mampu memberikan pelajaran untuk anak tersebut.
Terlalu sering memuji anak
Memuji anak setiap anak melakukan suatu tindakan yang baik atau karena tampilan fisiknya yang cantik ataupun ganteng memang sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Namun beda ceritanya jika pujian itu terlalu berlebihan dan terlalu sering diberikan pada anak. Kata ahli terlalu sering memuji anak bisa menimbulkan berbagai perubahan pad amental mereka.
Yang pertama adalah anak menjadi Mudah Menyerah
Menurut para ahli, memuji kecerdasan anak secara berlebihan akan memunculkan masalah mental pada dirinya. Memuji kepintaran anak sebetulnya hal yang wajar, namun ada penelitian yang menunjukkan efek negatif dari pemberian motivasi tersebut.
Contoh sederhananya saat anak berhasil melakukan sesuatu dan kamu memujinya dengan kata-kata "Wah pintar sekali kamu dek". Jika kalimat ini sering kita ucapkan anak-anak akan cepat putus asa jika melakukan hal sulit, anak-anak akan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tersebut, misalnya mencontek saat ujian. Karena apa? karena anak yang sering dipuji cenderung ingin tampil Sempurna.
Yang kedua adalah Tekanan Berlebih
Memuji anak memang sah-sah saja dilakukan, tetapi jika anak tersebut terus-terusan dipuji namun sebenarnya belum seperti apa yang dikatakan pemuji, anak justru akan mengalami tekanan. Karena anak-anak cenderung memaksakan diri untuk menjadi seperti apa yang orang-orang katakan.Sebuah studi juga menunjukkan bahwa pujian yang diberikan kepada anak akan menurunkan motivasi anak untuk belajar karena anak merasa sudah mampu.
Yang ketiga adalah anak hanya akan Menghargai Fisik
Menurut psikologi, memuji anak pada fisiknya akan menimbulkan dampak negatif pada beberapa anak. Mengapa? Ketika dirumah anak sering dipuji "wah cantik sekali adikku", "wah ganteng banget si anakku", pada saat anak keluar rumah mereka juga akan menganggap bahwa dirinya cantik/ganteng seperti apa yang dikatakan keluarganya, mereka akan beranggapan bahwa orang-orang disekitarnya akan terfokus pada kecantikan/kegantengan anak tersebut. Itu akan membuat anak terlalu kepedean dan ujung-ujungnya mereka akan menilai orang / menghargai orang lain pada tampilan fisiknya saja.
Nah, bagaimana dengan tulisan-tulisan diatas? apakah cukup membantu untuk proses belajar kita? semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua. Sekian dulu yang dapat saya tulis, sampai bertemu dilain tulisan dan saya mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam tulisan ini.
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Jangan lupa heppi :)
Sumber :
https://www.kompasiana.com/ngelesofficial/57bbf7d31597731517f05c93/pentingnya-kalimat-positif-pada-anak
https://skata.info/article/detail/512/tahap-kemampuan-komunikasi-anak-orang-tua-wajib-tahu
https://id.theasianparent.com/membentak-anak-yuk-hindari/
https://www.halodoc.com/artikel/awas-ini-dampak-negatif-terlalu-sering-memuji-anak

Mantap kak, bermanfaat banget.
BalasHapusmakasih kak sangat membantu
BalasHapusMantap,semangat terus Yach
BalasHapusTambah wawasan baru, makasih kak nik
BalasHapusTerimakasih kak sangat bermanfaat
BalasHapus👍
BalasHapusMantab sekali
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapuskeren kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusAkhirnya saya bisa berkomikasi secara baik
BalasHapusBermanfaat sekali kak
BalasHapusMantab sekali kak
BalasHapus